Saturday, 8 August 2015




Dari Awal Hingga Akhir
Oleh Elviyasa Gaberia Siregar

Seiring pertambahan usia tingkat kedewasaan seseorang pasti akan bertambah dengan sendirinya, setidaknya itu yang saya rasakan hingga saat ini. Saat ini saya tengah menginjak semester tujuh, saya sedang disibukkan dengan program kuliah pengabdian masyarakat. Sebuah program bagi mahasiswa mahasiswi untuk menyumbangkan pemikiran dan ide, serta gagasan kami demi membangun sebuah wilayah atau desa tertinggal baik dari sisi pendidikan maupun taraf hidup penduduknya. Saya  melaksanakan program tersebut bersama dengan sembilan rekan lainnya. Mereka berasal dari berbagai daerah dan jurusan yang berbeda-beda. Beberapa diantaranya merupakan mahasiswa jurusan Tarbiyah program studi Bahasa Inggris sama seperti saya sedangkan yang lainnya terdiri dari program studi Bahasa Arab, Pendidikan Agama Islam, Ekonomi Perbankan, Komunikasi Penyiaran Islam, Bimbingan Konseling, dan Pendidikan Madsarasah Ibtidaiyah. Saya awalnya merasa sangat tertekan karena harus beradaptasi dengan orang baru yang sama sekali belum pernah saya temui sebelumnya, maklum karena program ini menuntut kami untuk tinggal sementara selam dua bulan penuh di desa atau wilayah yang telah ditentukan oleh pihak kampus. Ada kalanya saya merasa takut untuk mengenal mereka satu persatu, saya merasa grogi dan berfikir bagaimana jika seandainya mereka kelak tidak menyukai saya. Hari pertama tinggal di sekretariat membuat saya frustasi, saya  bahkan tidak tahu bagaimana cara menjalin sebuah hubungan baru. Untungnya beberapa rekan yang saya sebutkan sebelumnya merupakan mahasiswa program studi Bahasa Inggris tidak segan menyapa saya dan selalu berusaha membuat suasana nyaman diantara kami. Perlahan lahan saya mulai dekat dengan rekan-rekan, kemudian-kemudian dan seterusnya hubungan ini berbuah layaknya sebuah persaudaraan mendadak yang kami jalin selama berada di sekretariat kuliah pengabdian masyarakat. Intensitas pertemuan kami yang selalu terjadi setiap harilah yang menyebabkan kami menjadi dekat sedekat-dekatnya, mereka bukan lagi orang asing layaknya julukan yang saya sematkan dahulu ketika saya sama sekali belum mengenal mereka. Saya senantiasa berdoa kepadamu ya Allah semoga mereka selalu Engkau beri kemudahan rezeki dan tuntunan hidup yang baik. Amin.




Program kerja yang saya dan rekan rekan kemukakan di desa atau wilayah lokasi kami mengabdi salah satunya yakni membantu mengajar di sebuah sekolah dasar negeri. Untuk pertama kalinya saya mengetahui betapa sulit pengorbanan seorang guru dalam mendidik anak murid supaya mengerti akan materi pembelajarannya.
 
Betapa kewalahannya saya mengajar siswa siswi sekolah dasar, mereka rata-rata kurang mendapat perhatian dan didikan yang baik dari guru-guru daerah tersebut mungkin lingkungan tempat tinggal mereka yang jauh dari modernitas menempah anak-anak desa tersebut menjadi pribadi yang cenderung sulit diatur dan lamban menerima materi yang saya dan rekan-rekan ajarkan. Apapun yang terjadi saya dan rekan-rekan harus mampu mengubah pola pemikiran dan cara belajar siswa siswi yang dirasa kurang efisien dan cenderung mengesampingkan program pendidikan yang mereka jalani. Semoga program kerja yang saya dan rekan-rekan susun sejak hari pertama dapat berjalan dengan lancar dan mendapat kesan yang baik bagi kami maupun warga desa tempat kami mengabdi. Inilah yang saya maksud sebelumnya bahwa tingkat kedewasaan seseorang dapat terasah sendirinya dengan berjalannya waktu. Jika seandainya saya tidak mengikuti program pengabdian masyarakat ini saya mungkin tidak pernah tahu rasanya mengajar di sebuah sekolah dasar, menghadapi berbagai macam karakter siswa siswi dengan tingkat kecerdasan mereka yang berbeda satu sama lainnya, serta saya mungkin juga tidak akan pernah mengetahui bagaimana rasa sesungguhnya menjadi seorang guru yang mengabdi pada negara demi mencerdaskan anak bangsa ini. Terimakasih guru.

No comments:

Post a Comment