Dari Awal Hingga Akhir
Oleh Elviyasa
Gaberia Siregar
Seiring
pertambahan usia tingkat kedewasaan seseorang pasti akan bertambah dengan sendirinya,
setidaknya itu yang saya rasakan hingga saat ini. Saat ini saya tengah
menginjak semester tujuh, saya sedang disibukkan dengan program kuliah
pengabdian masyarakat. Sebuah program bagi mahasiswa mahasiswi untuk
menyumbangkan pemikiran dan ide, serta gagasan kami demi membangun sebuah
wilayah atau desa tertinggal baik dari sisi pendidikan maupun taraf hidup
penduduknya. Saya melaksanakan program
tersebut bersama dengan sembilan rekan lainnya. Mereka berasal dari berbagai
daerah dan jurusan yang berbeda-beda. Beberapa diantaranya merupakan mahasiswa
jurusan Tarbiyah program studi Bahasa
Inggris sama seperti saya sedangkan yang lainnya terdiri dari program studi
Bahasa Arab, Pendidikan Agama Islam, Ekonomi Perbankan, Komunikasi Penyiaran
Islam, Bimbingan Konseling, dan Pendidikan Madsarasah
Ibtidaiyah. Saya awalnya merasa sangat tertekan karena harus beradaptasi
dengan orang baru yang sama sekali belum pernah saya temui sebelumnya, maklum
karena program ini menuntut kami untuk tinggal sementara selam dua bulan penuh
di desa atau wilayah yang telah ditentukan oleh pihak kampus. Ada kalanya saya
merasa takut untuk mengenal mereka satu persatu, saya merasa grogi dan berfikir
bagaimana jika seandainya mereka kelak tidak menyukai saya. Hari pertama tinggal
di sekretariat membuat saya frustasi, saya bahkan tidak tahu bagaimana cara menjalin
sebuah hubungan baru. Untungnya beberapa rekan yang saya sebutkan sebelumnya
merupakan mahasiswa program studi Bahasa Inggris tidak segan menyapa saya dan
selalu berusaha membuat suasana nyaman diantara kami. Perlahan lahan saya mulai
dekat dengan rekan-rekan, kemudian-kemudian dan seterusnya hubungan ini berbuah
layaknya sebuah persaudaraan mendadak yang kami jalin selama berada di
sekretariat kuliah pengabdian masyarakat. Intensitas pertemuan kami yang selalu
terjadi setiap harilah yang menyebabkan kami menjadi dekat sedekat-dekatnya,
mereka bukan lagi orang asing layaknya julukan yang saya sematkan dahulu ketika
saya sama sekali belum mengenal mereka. Saya senantiasa berdoa kepadamu ya
Allah semoga mereka selalu Engkau beri kemudahan rezeki dan tuntunan hidup yang
baik. Amin.
Program
kerja yang saya dan rekan rekan kemukakan di desa atau wilayah lokasi kami
mengabdi salah satunya yakni membantu mengajar di sebuah sekolah dasar negeri.
Untuk pertama kalinya saya mengetahui betapa sulit pengorbanan seorang guru
dalam mendidik anak murid supaya mengerti akan materi pembelajarannya.
Betapa
kewalahannya saya mengajar siswa siswi sekolah dasar, mereka rata-rata kurang
mendapat perhatian dan didikan yang baik dari guru-guru daerah tersebut mungkin
lingkungan tempat tinggal mereka yang jauh dari modernitas menempah anak-anak
desa tersebut menjadi pribadi yang cenderung sulit diatur dan lamban menerima
materi yang saya dan rekan-rekan ajarkan. Apapun yang terjadi saya dan
rekan-rekan harus mampu mengubah pola pemikiran dan cara belajar siswa siswi
yang dirasa kurang efisien dan cenderung mengesampingkan program pendidikan
yang mereka jalani. Semoga program kerja yang saya dan rekan-rekan susun sejak
hari pertama dapat berjalan dengan lancar dan mendapat kesan yang baik bagi
kami maupun warga desa tempat kami mengabdi. Inilah yang saya maksud sebelumnya
bahwa tingkat kedewasaan seseorang dapat terasah sendirinya dengan berjalannya
waktu. Jika seandainya saya tidak mengikuti program pengabdian masyarakat ini
saya mungkin tidak pernah tahu rasanya mengajar di sebuah sekolah dasar, menghadapi
berbagai macam karakter siswa siswi dengan tingkat kecerdasan mereka yang
berbeda satu sama lainnya, serta saya mungkin juga tidak akan pernah mengetahui
bagaimana rasa sesungguhnya menjadi seorang guru yang mengabdi pada negara demi
mencerdaskan anak bangsa ini. Terimakasih guru.
No comments:
Post a Comment